Kesenian Tutunggulan merupakan bunyi-bunyian yang ditimbulkan oleh benturan antara alu dan lesung. Tutunggulan sering terdengar pada saat-saat tertentu, seperti pada saat penyimpanan padi ke lumbung. Terkadang, tutunggulan sengaja dibunyikan dengan keras agar bisa terdengar dari jarak yang cukup jauh. Beberapa macam bunyi yang dihasilkan dari kesenian ini adalah: “trok”, “tung”, “dung”, dan “prek”. Bunyi “trok” dihasilkan dari pukulan antara alu dan bagian samping sebelah luar pamoroyan. Bunyi “tung” dihasilkan dari pukulan antara alu dan bagian samping sebelah dalam pamoroyan. Bunyi “dung” dihasilkan dari pukulan antara alu dan bagian dalam pamoroyan. Dan, “prek” dihasilkan dari benturan antaralu dalam posisi silang. ..
Salah satu kesenian buhun yang sudah lama masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Cibeber.
Kesenian Pencak Silat merupakan warisan leluhur masyarakat Purwakarta. Dilansir dari berbagai sumber, kesenian ini disandingkan dengan musik terebang. Menariknya lagi, setiap jurus yang diperagakan mengandung unsur islami. Hal ini wajar lantaran di Purwakarta banyak berdiri pesantren.
Dengan mencampurkan unsur islami serta pencak silat, para penggagasnya rupanya menginginkan generasi muda menyukai kesenian lokal tersebut.
Qasidah, berasal dari bahasa Arab yang berarti “nyanyian,” mengacu pada jenis musik yang memiliki ciri khasnya sendiri. Qasidah adalah jenis lagu yang berisi syair-syair dengan tema agama Islam atau dakwah Islam. Seni Qasidah juga melibatkan alat musik tradisional, terutama rebana, kecrek, dan sejenisnya. Biasanya, Qasidah dimainkan oleh kelompok musisi terdiri dari lima atau enam orang yang menggunakan berbagai jenis alat musik, mulai dari yang kecil hingga rebana yang besar. Selain itu, Qasidah juga dapat menggabungkan alat musik lain sesuai dengan keterampilan seniman yang terlibat.
Kesenian marawis berasal dari negara timur tengah terutama dari Yaman. Nama marawis diambil dari nama salah satu alat musik yang dipergunakan dalam kesenian ini. Secara keseluruhan, musik ini menggunakan hajir (gendang besar) berdiameter 45 Cm dengan tinggi 60-70 Cm, marawis (gendang kecil) berdiameter 20 Cm dengan tinggi 19 Cm, dumbuk atau (jimbe) (sejenis gendang yang berbentuk seperti dandang, memiliki diameter yang berbeda pada kedua sisinya), serta dua potong kayu bulat berdiameter sepuluh sentimeter. Kadang kala perkusi dilengkapi dengan tamborin atau krecek dan Simbal yang berdiameter kecil. Lagu-lagu yang berirama gambus atau padang pasir dinyanyikan sambil diiringi jenis pukulan tertentu.